Preman Plat Merah

Puisi Propokatif By : Syafir Percikan darah itu masih begitu nyata¬†Terukir dalam Untain sejarah. Seruan sorak Sorai kemerdekaan menggema di seluruh sudut Negri. Menjadi Pertanda Bahwa Harapan Telah Tunai. Bangsa Telah Merdeka… Meski Tetesan Air Mata Anak Istri Pahlawan Masih basah di pipi merah. Ditinggal Syahid Sang ayah… Berjuang untuk kata yang di teriakkan. Merdeka!…. Ouh . . . 73 Tahun… sudah sudah berlalu… Tanah Tunai, Alam Saksi, Darah Bukti, Air Mata Mengalir. Bahagia Di ujung perjuangan… Telah Terusir Kompeni-Kompeni […]

Read more

Pecundang Gagah

By : Sang Musyafir Puisi Propokatif Katanya Kaya… Hasil Alam Berlimpah… Tapi rakyat tetap susah… Ada apa?… Simiskin omong besar. Sok jago dikandang lemah. didalam rumah bag majikan. Diluar bersimpuh sembah. Tunduk penguasa gagah… Pada Kegelapan penguasa harta. Bala Tentara menjadi tameng. Penutup malu Upeti Emas Segunung Gagah. Pembayar utang, Yang Tiada berkesudah. Diulah pengecut duduk disingga sana emas. Seolah tiada salah yang patut di akui. Saran ditumpuk menjadi basi. Pamer kerendahan hati… Tampil seoalah Memang peduli. Tapi di dabalik […]

Read more

Negeri Ku Hebat

By : Ahmad Satria Sebuah Puisi Propokatif… Negeriku dihuni orang-orang hebat. Berapa banyak pejabat yang kurang sehat? Masalah proyek berdebat, namun abaikan masalah rakyat. Negeri yang alamnya kaya, namun lihat berapa banyak rakyat teraniaya? Negri yang bercita- cita anak bangsanya harus cerdas, namun terbalik menjadi tertindas. Dimana masa depan republik. Jika dikuasai orang-orang licik,serta otak picik Yang menolak akan kritik. Siap-siap menunggu kehancuran jika hanya berduduk diam orang baik. Para mahasiswa dan pemuda arah bangsa tergenggam ditangannya. Sekarang juga diam […]

Read more

Menulis Adalah Keabadian

Kata Emha Ainun Najib, “Sastra adalah energi batin yang mengisi ruang kosong yang harus ada, niscaya dan luar biasa pada diri manusia.” Kalau ruang kosong di otak terisi dengan pengetahuan tapi sering ruang hati kosong. Sastra selalu berbicara melampaui batas cakrawala. karena pengarang karya sastra (sastrawan) bertindak sebagai “dalang”, “psikolog”, “filosof” dan “futurolog”. Zaman senantiasa berkembang dalam setiap dekade, budaya pun melesit mengitari periodesasi, dan sastra juga meliputi dimensi-dimensi tanpa ruang dan waktu, tergantung imajenasi pengarang. Sesungguhnya sastra bukan persoalan […]

Read more