KEADABAN DALAM BINGKAI BUDAYA DAN KEMANUSIAAN

By : Irwanto

Multikulturisme adalah merupakan konsep ilmu sosial, dimana masyarakat menerima adanya keragaman latar belakang budaya, perbedaan sejarah, suku, bangsa, rasial dan golongan serta agama. Anggota masyarakat yang hidup di dalamnya harus siap menerima kenyataan untuk hidup berdampingan satu sama lainnya dengan perbedaan-perbedaan yang melekat pada setiap individu atau entitas sosial politik lainnya. Masyarakat multikultural bersifat heterogen dimana hubungan dinamika sosial mereka ditandai oleh adanya pola-pola konflik dan integritas yang cukup .
Dari konteks tersebut di atas, menurut Baskoro Samlawi bahwa isu-isu global yang saat ini menjadi trans dalam arus pemikiran maupun gerakan praksis tidak bisa dipungkiri telah masuk dalam semua ranah kebudayaan yang mesti direspon menjadi bagian keniscayaan dalam gerakan kemasyarakatan—-ketidaksadaran kebudayaan —cultural anconsiusnes—nampaknya telah mewabah menjadi virus penggiring pada kubangan yang mematikan bagi kemanusiaan yang sesungguhnya memiliki banyak dimensi—multiple diminsion—sebagai makhluk budaya. Kapitalisme salah satu cucu yang lahir dari semangat modernisme disinyalir ikut andil menciptakan ketidaksadaran spiritual dan menempatkan sisi kemanusiaan dalam hitungan angka-angka empirik logis dan rasional.
Maka kemenangan bagi kapitalisme dan modernisme adalah terciptanya gaya hidup hedonisme; dengan menawarkan sorga-sorga baru pasca matinya sorga agama, serta kehidupan serba instan, percepatan pola hidup yang diragi dan dikosumsi tanpa dikunyah. Fantasi dunia yang elok di pandang mata. Namun sesungguhnya tidak memiliki kaki dan tulang yang kokoh untuk bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dan manusia.
Dari pemikiran di atas, selaku anak bangsa dan hamba Allah mungkin wajib kiranya dari sisi kemanusiaan untuk merespon dan menyelamatkan budaya yang sudah diinjak oleh kapitalisme atas usaha-usaha penindasan mekanis. Usaha pembebasan ini dilakukan sebagai bagian upaya profetik. Dan semangat yang dibangun atas landasan kemanusiaan kultural dan kemanusiaan transedental. Yakni mengedepankan wawasan Qur’ani dalam menyikapi paham humanisme dan multikulturisme, supaya tidak terbawa arus paganisme, sekulerisme, hedonisme, primisivisme, dan globalisme.
Seperti yang dijelaskan Nurcholish Madjid:
Tekanan dari segi kemanusiaan dari agama ini menjadi semakin relevan, bahkan mendesak, dalam menghadapi apa yang disebut era globalisasi, yaitu zaman yang menyaksikan proses semakin menyatunya peradaban seluruh umat manusia berkat kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi. Barangkali peradaban umat manusia tidak akan menyatu secara total sehingga hanya ada satu peradaban di seluruh muka bumi (yang tentunya sedikit saja orang yang menghendaki demikian, karena akan membosankan). Setiap tempat mempunyai tuntutannya sendiri, dan tuntutan itu melahirkan pola peradaban yang spesifik bagi masyarakat setempat. Tetapi jelas tidak ada cara untuk menghindari dampak kemudahan berkomunikasi dan berpindah tempat, berupa kemestian terjadinya interaksi dan saling mempengaruhi antara berbagai kelompok manusia. Karedna itu juga diperlukan adanya landasan keruhanian yang kukuh untuk secara positif mempertahankan identitas, sekaligus untuk memqantapkan pandangan kemajemukan dan sikap positif kepada sesama manusia dan saling menghargai.

 

Budaya Baru Generasi ’Mcdonald-isasi’
Saat ini banyak yang telah merayakan ”malam kematian tuhan”, dimana-mana segala kebudayaan lahir secara prematur. Dan berakhir pula dengan kekerasan yang abadi. Sehingga manusia telah menjadi ”kanibalisme”.
Mungkin yang lebih tepat disebut dengan ”mcdonald-isasi” yakni budaya instan; kecil dimanja, remaja ternama, dewasa kaya raya, dan mati masuk sorga. Bisnis aurat di layar kaca atau di cover majalah dan koran merupakan sebuah kecenderungan psikologis yang ingin serba cepat untuk terkenal dan mendapat nama, yang selalu di buru oleh anak muda generasi Indonesia. Inilah sikap sekulerisasi yang tercerabut dari wawasan Qur’ani; baik nalar Qur’an, etika Qur’an, maupun akhlak Qur’an.
Secara kasatmata Indonesian Ideol, API, KDI, Dangdut Academy dan sejenisnya, adalah sebuah budaya baru untuk menjadi kaya dan terkenal lewat jalan pintas. Dengan menang di kontes dan festival tersebut akan mendapat rumah, mobil, uang dan akan di bawa rekaman serta dikontrak main film, sinetron, presenter dan bintang iklan.
Proses adalah jalan dan sarana untuk meraih sukses. Namun proses yang panjang dan sangat membutuhkan kesabaran tinggi sangat kurang diminati, dan bahkan dicibiri oleh banyak orang. Sebagai contoh misalnya adalah gerakan literasi (membaca, menulis, berdiskusi, dan sejenisnya) yang sangat membutuhkan proses yang tekun, sabar dan kejelian tidak mendapat simpati dari banyak kalangan siswa dan mahasiswa. Karena proses menjadi penulis yang profesional tidak bisa seperti mie instan yang hanya diguyuri air panas langsung melebur, dimasukkan bumbu dan bisa di makan langsung.
Sikap dan sifat menerabas, banting stir, potong kompas dan sejenisnya menjadi trans generasi muda Indonesia hari ini. Bahkan yang teranyir banyak yang terkenal dadakan dari situs internet, seperti dari kalangan mahasiswa (Yoyo dan Jojo dengan Keyong Racunnya), masyarakat umum (Udin dengan Udin Mendunia), polisi (Norman Kamaru dengan Caiya), dan artis panggung (Ayu Tintin dengan Salah Alamatnya).
Namun yang sangat miris sekali adalah sikap ingin cepat kaya dengan menghalalkan segala cara seperti Gayus H. Tambunan serta “jamaah” rekening “gendut” PNS muda lainnya, maupun Muhammad Nazaruddin, serta “jamaah” politisi muda dengan “perselingkuhan” antarlembaga dalam korupsi dan persekongkolan tidak patut untuk diteladani.

Tradisi Ilmu dan Gerakan Literasi adalah Bangunan Peradaban Qur’ani
Walaupun banyak siswa dan mahasiswa yang 0 (nol) baca buku. Namun kita harus optimis, bahwa dengan semangat tradisi ilmu dan gerakan literasi yang dimulai saat ini dan setiap hari akan dapat diraih prestasi-prestasi gemilang oleh generasi Islam yang berwawasan Qur’ani.
Memang tidak salah kalau Indonesia meraih ”prestasi” korupsi ”terbaik” dan pornografi ”terhebat” sedunia. Karena sikap instan, yakni ingin cepat kaya dengan korupsi dan mencederai idealisme, dan ingin terkenal dengan berani mempertontonkan aurat dan jual diri.
Gerakan budaya membaca, menulis dan diskusi adalah sebuah proses untuk menunjukklan kreativitas anak bangsa dalam memacu diri, baik untuk diri sendiri maupun untuk meningkatkan sumber daya manusia bangsa. Karena budaya ilmu akan membawa kondiri bangsa menjadi beradab. Sedangkan tradisi instan hanya melahirkan kebiadaban, seperti ingin naik karir dengan menyogok, ingin naik pangkat dengan membunuh karakter saingan, dan segala bentuk yang tidak bermoral lainnya.
Tradisi ilmu sebenarnya telah diperingatkan Allah SWT dalam firmanNya:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(Q.S. Al-‘Alaq {96}: 1-5)

Spirit Al-Qur’an di atas menjadi penyemangat generasi Islam dan Indonesia untuk menyadari, bahwa Barat yang gemar membaca telah menerima konsep Islam, sementara generasi Islam terkadang lalai dengan konsep Islam yang menyadarkan pengikutnya untuk menjadikan tradisi keilmuan sebagai proses untuk meraih kejaya Islam dan Indonesia.

Kearifan Lokal untuk Pencerahan Umat dan Bangsa
Dalam konteks lokal di daerah, mungkin sebuah semangat untuk kembali kepada aktualisasi nilai: ”Adat bersendi Syarak dan Syarak bersendi Kitabullah; Syara mungato, Adat mumakai”. Dalam budaya atau kultur yang ada pada peradaban yang harus dilakukan, adalah dengan semangat untuk kembali ke masjid/surau, semangat untuk kembali ke madrasah/pengajian dan halaqah.
Kemudian, inti dari semua itu adalah berakhir pada semangat untuk kembali pada peradaban keemasan Islam, seperti Abbasiyah yang penuh dengan bangunan peradaban umat serta gelombang kebudayaan yang bernilai profetik dan transedental, sebab masa itu telah menempatkan umat Islam pada masa keemasan dan kepeloporan Islam.
Upaya untuk mewujudkan keemasan Islam tersebut adalah dengan melakukan tradisi ilmu serta menghargai kearifan lokal yang ada di setiap daerah yang ada di Indonesia ini. Keberanekaragaman bukanlah hal yang akan menghancurkan sebuah bangsa. Akan tetapi merupakan aset yang sangat penting untuk membangun dan menata kembali peradaban suatu bangsa.
Konflik-konflik yang terjadi di daerah-daerah baik dipicu oleh provokasi maupun sikap reaktif terhadap sebuah persoalan. Seharusnya dapat diselesaikan dan dicari solusinya melalui kearifan lokal. Sebab, kekerasan yang dilawan dengan kekerasan hanya melahirkan kekerasan baru dan penderitan yang tiada akhir.
Maka, kalau manis janganlah ditelan, karena itu belum tentu madu yang menyegarkan, dan itu bisa saja sirup yang membuat penyakit panas dalam. Dan, kalau pahit janganlah dibuang, karena itu belum tentu racun yang membinasakan dan itu bisa saja jamu yang menyehatkan badan.
Harapan bukanlah sesuatu yang hampa, akan tetapi merupakan optimisme. Seperti pendapat Nurcholish Madjid menyatakan:

Harapan itu ibarat sebagai pelampung yang mengambangkan kita dalam laut dan gelombang kehidupan yang tidak menentu. Ada pepatah Arab ma abyagh-a ‘l-‘aysy law la wus’at-u’l-amal-i, alangkah sempinya hidup ini kalau tidak lapang harapan-harapan…. Kita berani hidup karena ada harapan. Sesuatu yang kita inginkan ternyata tidak terjadi hari ini, masih kita harapkan mudah-mudahan terjadi esok, dan kita pun tahan hidup sampai esok, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan.

Mentradisikan ilmu, mengembangkan karya adalah langkah untuk meraih prestasi dan bangkit untuk kembali menata peradaban yang terkoyak di tengah hingar-bingarnya kehidupan sekulerisme saat ini. Maka konsep Islam dengan wawasan Qur’ani dan kearifan lokal harus menjadi sentral dalam membangun peradaban untuk membentuk masyarakat Islami yang berkeadaban yang berwawasan Qur’ani.
Sikap arif adalah cara pandang secara Qur’ani, bahwa masa depan Islam berada pada sikap umat Islam yang bisa hidup secara toleran dengan siapapun, baik sesama umat Islam maupun antarumat beragama. Sebagaimana dijelaskan Zuhairi Misrawi:
Dengan demikian, Al-Quran dapat dijadikan oase di tanah yang gersang, yang selama ini dirundung krisis toleransi. Dengan paradigma yang terdapat di dalam Al-Quran, baik ayat-ayat toleransi maupun reinteprestasi ayat-ayat yang kerapkali digunakan untuk tindakan intoleran, umat Islam seharusnya membuka cakrawala baru untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Slogan “Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah” merupakan slogan yang mulia. Namun, sloganisasi dan ideologisasi bukanlah cara terbaik untuk mengungkapkan mutiara Al-Quran. Langkah terbaik adalah pembacaan yang arif, terbuka dan kontekstual. Sebab dengan cara itu, harapan untuk mewujudkan toleransi di muka bumi Tuhan bukanlah sebuah impian. Toleransi adalah teks sekaligus realita.

Maka seluruh peri-kehidupan orang Islam adalah membawa nilai perdamaian kepada semua makhluk Allah. Seperti pernyataan Nurcholish Madjid:
Inti ajaran Islam, yaitu damai, kedamaian, perdamaian dan semua pengertian perluasannya yang dalam bahasa Arab dinyatakan dalam kata-kata yang menafsirkan dari akar kata s-l-m seperti salam, salamah atau salamat-un, salm, silm, adalah juga bersifat universal atau menjagad raya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *