MEMBACA PERPOLITIKAN DI KERINCI

Kajian Akademi Lapik Center. sabtu 05/07/2017 jam 10.00 Wib s/d Selesai di Rumah Bahasa Heldison Fakka, kali ini menghadirkan Pemateri Jafar Ahmad, M.Si dosen IAIN Kerinci, beliau juga peneliti dan anggota Lembaga Survey Idea Institute, beliau mempunyai banyak pengalaman dalam meneliti prilaku pemilih dalam Pemilihan Kepala Daerah, seperti di Bungo, Kerinci dan Kota Sungai Penuh, Pemateri Pertama Jafar Ahmad, M.Si membahas tentang Membaca Perpolitikan Kerinci dalam Perspektif Masa Depan. Kemudian pemateri kedua Heldison, MA beliau juga seorang peneliti, dan penulis banyak buku novel yang telah beliau tulis, selain kerja sebagai pegawai Negeri beliau aktif di Rumah Bahasa, beliau juga sebagai Ketua Sastra dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci, Pemateri Kedua membahas tentang Partisipasi Kaum Muda dalam ‘Revolusi’ Perpolitikan Tanpa Kekerasan.
Sebelum kajian dimulai, Seperti 2 kali pertemuan sebelumnya peserta membaca puisi sebagai kretifitas dalam bersastra, kesempatan ini di baca oleh Indra dengan puisinya: Kekuasaan Rakyatku Malang, Silahkan Baca di Kolom Satara Lapik Center.com

http://lapikcenter.com/kekuasaan-rakyatku-malang/

Setelah puisi dilantunkan kajian mulai dihangatkan oleh moderator mantan Presiden Mahasiswa STAIN Kerinci Wiwin Belantara, S.Sy priode 2014-2015.
Kesempatan Pertama oleh Pemateri Jafar Ahmad, M.Si
Demokrasi sesungguhnya berbagai pariasinya, lebih seratus pariasi demokrasi di dunia ini, Indonesia sekarang pakai demokrasi presidensil, walaupun sebelumnya pakai demokrasi parlementar. Jadi ketika Karx Marx membangun ideology Masxisme itu sudah mengkritik demokrasi, jadi apakah sekarang pengkritik demokrasi seperti HTI juga bagian alur ini? Tentu kita tidak bisa menjawab iya atau tidak, yang jelas yang perlu kita pertanyakan adalah HTI Mengkritik demokrasi apa, bukankah Khilafah bagian dari demokrasi?
Pada subtansinya demokrasi, sosialisme, masxisme, dan ideology lainnya pada hakekatnya ada dua hal inti dari semuanya yakni keadilan dan kesejahteraan rakyanya yang di inginkan.
Baik saya akan menjelaskan prilaku politik, sebenarnya siapapun yang mencalon sebagai calon bupati/walikota atau gubernur sekalipun Presiden kemudian dilembaga Legislatif, sesungguhnya bisa dipastikan tidak ada yang mampu mengelak dari korupsi, potensi korupsi sangat besar, transaksional bahkan harus dilakukan karena sudah menjadi keharusan tidak bisa tidak, saya tidak percaya proses perpolitikan itu bersih bisa dipastikan hampir tidak ada yang bersih, mau katanyanya buya, sering khutbah dan lain sebagainya.
Logikanya, semua yang ingin mencalon itu harus mendaftar ke Partai Politik, minimal uang pendaftaran 10 Juta, kemudian jika memastikan ingin di usung partai harus berusan di pusat, calon harus mampu menjelaskan bahwa dia layak jadi Bupati/walikota, dan punya modal, transaksionalpun terjadi “membeli” perahu minimal 1 Milyar. Kemudian uang pemilihan harus disediakan minimal 1 suara 200 ribu rupiah. Ini sebuah penelitian saya dan selama saya menjadi konsultan politik katan Bang Jafar Ahmad.
Bagaimana mungkin tidak korupsi jika potensi korupsi sudah dibangun sedemikian rupa, bahkan perusahaan kalau di kerinci kebanyakan perusahaan tender proyek, jika korupsi 150 juta maka untuk saya 50 juta, hitung-hitungan sudah dimulai, bahkan ingin mencalon kita perlu beli kursikan, 2 kursi di DPRD minimal 300 juta.
Kemudian dari pemilih sendiri ada tiga dasar pemilih memilih Petama, atas dasar sosiologis yakni karena teritorial kesukuan, adat istiadat dan karena “kemudik-anya” dan karena ‘kehilir-annya’, ini saya buktikan dari survey saya khusus untuk calon kerinci hilir, bahwa bisa dipastikan pemilih kerinci mudik 20 % mau memilih calon dari hilir selebihnya 80 % memilih tidak memilih. Memang dominasi pemilih atas dasar sosioligis sangat berpengaruh. Kedua, atas dasar Psikologis yakni pemilih memilih karena suka pada calon, karena calon tampan, karena calon baik, karena calon ramah itu pemilih memilih atas dasar psikologis. Hal ini kita lihat seperti pemilihan gubernur jambi, zumi zola dipilih sebagian % karena ketampanannya, karena suka dan lainnya. Ketiga, atas dasar Rasional yakni karena pemilih memilih di bayar 200 ribu, saya memilih saya dikasih uang itu rasional, saya di kasih proyek maka saya dukung calon A.
Dari tiga hal itu sekalipun punya pengaruh yang berbeda tehadap pemilih, namun atas dasar Rasional sangat memungkinkan mengalahkan pemilih yang mendasarkan pilihannya atas dasar sosiologis dan psikis. Karena cara merayu pemilih sangat banyak walaupun akhirnya uang yang berbicara, bahkan di poles dengan bahasa agama sungguh luar biasa.
Pemantik kedua Heldison, MA
Partisipasi kaum muda dalam ‘revolusi perpolitikan tanpa kekerasan, perpolitikan adalah produk sejarah, kalau tinjauan sejarah Islam bahwa Nepotisme sudah berlaku di Islam disebut As shobiyah. Ketika berakhir kekhalifahan khulafa Rhasyidin dilanjutkan nepotisme besar besaran yakni system dinasti sampai berakhirnya kekuasan turki usmani. Jadi Nepotisme sudah ada dan mungkin sulit di tiadakan dalam kekuasaan perpolitikan. Pada era modern banyak sekali contoh seperti yang terjadi di Banten Ratu atut yang terkasus korupsi, keluarganya memegang system seperti dinasti, kemudian revolusi iran 1971 pada waktu itu yang dipimpin oleh Reza Pahlevi.
Pemimpin itu lahir dari dua cara, Pertama dari kondisi dan situasi, hal ini jelas ketika soekarno tidak dididik menjadi Pemimpin, seokarno berlatar belakan pendidikan Insinyur namun bisa jadi presiden, ini adalah kondisi dan situasi yang menciptakan. Kedua Pemimpin di ciptakan, dalam artian di ciptakan melalui pendidikan, jurusan manajeman dan dilatih di berbagai organisasi Mahasiswa, al Ikhwal Pemimpin, bang Jafar Ahmad beliau seorang aktifis serta aktif di organisasi, saat jadi Mahasiswa beliau terjun ke dunia politik yakni menjadi presiden Mahasiswa IAIN STS Jambi.
Tanggapan –tanggapan
Nanda Pratama
Bagaiman politik bisa menciptakan keadilan dan kesejarteraan rakyat, ini yang penting sekali, bagaimana menurut narasumber?
Buya Irwanto
Kondisi politik kita memang agak keras terutama di Daerah tengah Pondok Tinggi, Rawang, sungai penuh karena memang ini terjadi hingga premanisme dan anarkisme dan momen-momen Pilkada/Pilwako di warnai aksi bahkan persekusi, ya kita lihat yang terjadi pembakaran rumah di Daerah sulak, hingga tak bersapa sesama karena atas dasar pilihan pilkada, ini menjadi persoalan politik kerinci, kemudian kenyataan-kenyataan politik berbulu busuk sudah banyak disampaikan oleh Pemantik Pertama Jafar Ahmad tadi. Di ALC ini harus menjadi Pencerah di tengah kemelut perpolitikan di Kerinci, kita biarlah diskusi ke diskusi, kita menempuh jalan sunyi, sekalipun kita ingin berpolitik dari anggota ALC ya silahkan, kalau berdosa ya taubat, untuk apa Tuhan mencipatan Astagfirullah, kalau bukan untuk bertaubat, kita sekarang sedang bernafas di lumpur yang bernajis.
Kita baca tulisan Kontowijoyo bahwa Perpolitikan Indonesia beranjak pada tiga fase Mitos, Ideologi dan Ilmu. Sekarang adalah fase ilmu namun masih juga melestarikan cara mitos dan ideology. Akal manusia mesti dinamikanya sudah masuk pada strata Ilmu namun kenyataannya perpolitikan kita luar binasa masih stagnan, hal ini bagi kita pengkaji harus bisa bersikap pada fase Ilmu.
Indra Mustika
Realitas perpolitikan yang di paparkan oleh bang jafar membawa kita melihat kegelapan dalam perpolitikan, kegelapan itu sama sekali tak terlihat adanya lilin-lilin penerang masa depan. Kegelapan plus kesetanan dalam perpolitikan memunculkan berbagai potensi kecurangan dan kerakusan hingga “memiskinkan” rakyat. System apa yang sedang berlaku saat ini?
Dari bacaan saya bahwa tidak satupun saya menemukan Teori politik yang mengajarkan, untuk merebut kekuasaan harus dengan berbagai cara tapi yang kita temukan dilapangan berbagai cara untuk merebut kekuasaan, terlalu jauh jurang antara cita-cita dengan fakta, antara harapan dengan kenyataan .
Sesungguhnya demokrasi adalah projek besar Amerika Serikat dalam menindas Negara Berkembang, demokrasi ala amerikawi adalah persoalan bangsa ini, koorporasi dan oligarki yang memegang kendali Negeri ini. Konstruksi demokrasi ala Indonesiawi yang harus kita ikhtiarkan bersama. Adakah lilin penerang di ujung jalan dari segala kegelapan yang di paparkan?
Aras
Kita menghadapi persoalan yang tidak tanggung-tanggung, sedangkan Alquran sudah memberi tuntunan dari segala aktifitas manusia, dari aspek politik mesti prilaku harus berdasar pada Alquran dan hadist.
Menanggapi Tanggapan-Tanggapan
Jafar Ahmad, M.Si
Demokrasi lansung itu lebih baik dari pada demokrasi yang dipilih oleh anggota dewan, memang sesugguhnya demokrasi menciptakan kekuasaan oligarkis, untuk menciptakan demokrasi ala Indonesia harus dibenahi struktur social, dan masyarakatnya harus cerdas. Jika masyarakat cerdas bisa memungkinkan tidak terjadinya potensi korupsi, karena masyarakat bisa menilai trak rekor dan tidak tertipu oleh janji-janji politik.
Demokrasi kita di pengaruhi oleh media, coba kita lihat kejadian pilkada DKI Jakarta, ketika sedikit salah kandidat Gubernur persoalan lansung di viralkan, hingga elektabilitas menurun bahkan tidak menang, ini persoalan.
Kita masih punya lilin-lilin penerang di ujung jalan, bahwa perjalanan demokrasi akan baik jika masyarakatnya baik. Dan Kita sebagai Kaum terpelajar harus ikut mencerdaskan bangsa ini, sekecil apapun kita harus berbuat.
Saya memang sudah lama terjun di politik tapi saya tidak ikut jahat, sekalipun seorang pejabat/penjahat besar pasti memerlukan bendahara yang baik, nah kita harus menjadi baik sekalipun di tengah kejahatan. Pasti orang baik akan dipentingkan, dan kita setidaknya bisa mewarnai keadaan.
Wassalam(Prd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *