Peradaban Umat Manusia

By : Irwanto, Runtuhnya Peradaban Besar

Peradaban manusia yang dibangun dan dikembangkan tidak selamanya utuh dan bertahan dalam tatanan kehidupan yang selalu berkembang. Sebab di alam kehidupan manusia ini tiada yang tetap, melainkan yang tetap adalah perubahan itu sendiri.

Menyimak apa yang dikatakan Jared Diamond dalam bukunya yang berjudul: Collapase yang merupakan tenden buku Guns, Germs dan Steel[1] yang mencoba menelaah apa yang menyebabkan runtuhnya peradaban besar.

Jared Diamonds menunjukkan lima faktor penyebab runtuhnya perabadan besar, yaitu;

Pertama, kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh manusia. Ini dapat dilihat dari penggundulan hutan yang mengakibatkan banjir, lonsor, limbah industri yang berakibat tercemarnya aliran sungai, dan permasalahan lingkungan lainnya.

Kedua,  perubahan cuaca akibat pemanasan global sebagai efek rumah kaca. Akibatnya adalah menipisnya lapisan ozon serta terjadinya berbagai bencana dan badai seperti badai  Katrina, Elnino, dan sejenisnya.

Ketiga, tetangga yang bermusuhan yang menginfansi suatu komunitas yang memang sedang lemah. Ini dapat dilihat dari kehidupan pribadi manusia yang tidak menginginkan ada teman yang menonjol dari dirinya, atau tetangga yang buruk hati melihat keistimewaan yang dimiliki tetangga sebelahnya. Atau negara yang tidak senang melihat kemajuan Iptek negara jiran lainnya berhasil menemukan teknologi baru, sehingga harus dihancurkan dengan alasan yang dibuat-buat alias ‘pandai berdalih tanpa dalil.’

Keempat, mengendurkan dukungan dari kelompok masyarakat yang selama ini menjalin hubungan melalui perdagangan. Hal tersebut bisa saja karena mental korup yang telah kelewat batas, sehingga bangsa luar yang menjadi investor menarik investasinya (karena jalur birokrasi yang berbeli-belit, korupsi yang “membudaya” dan tiadanya rasa aman). Akhirnya bangsa itu harus dililit hutang pada negara kaya (adi-kuasa). Karena kronisnya penyakit korupsi sehingga ekonomi dan perbankan dikuasai oleh kroni-kroni penguasa dari tingkat RT sampai negara, dan ditambah lagi rapuhnya transparansi perbankan seperti kasus BLBI, Century, dll.

Secara kasatmata hal tersebut di atas dapat dilihat, bagaimana subsidi BBM yang tidak untuk meringankan rakyat miskin, tetapi justru dinikmati dan menguntungkan orang-orang kaya, maka tidak mustahil terjadi pengendapan BBM, menimbun BBM (“tangki kencing”) dan segala bentuk kejahatan lainnya.

Kelima, buruknya penyelesaian persoalan melalui kerangkan institusi politik, ekonomi, sosial dan nilai-nilai budaya. Akibat buruknya penyelesaian setiap persoalan atau konflik, maka sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan suatu peradaban. Hal tersebut disebabkan oleh rasa dendam kesumat masing-masing pihak yang dirugikan. Sehingga setiap konstruksi untuk membentuk peradaban baru akan mengalami hambatan, tantangan dan ganjalan.

Dari hal tersebut di atas, dapat dipahami, bahwa runtuhnya peradaban adalah disebabkan manusia melepaskan “dimensi-dimensi” yang telah ada di dalam dirinya, yakni kecerdasan fisik (FQ),  kecerdasan inteletual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Memang kemampuan manusia membangun sebuah peradaban baru adalah kemampuan kecerdasan intelektualitas dan emosionalnya. Akan tetapi itu pula  yang meruntuhkan peradaban yang telah dibangun. Maka dimensi Ilahiah (kecerdasan spiritual/SQ) itulah yang membuat bertahannya peradaban yang dikokohkan dengan kecerdasan intelektual (IQ), fisik (FQ) dan emosional (EQ).

Keruntuhan peradaban umat manusia, bukan hanya dialami oleh bangsa-bangsa saat ini. Akan tetapi sejak dahulu kala. Hal tersebut disebabkan oleh mempertuhankan dan memperturutkan hawa nafsu (emosi), dan jauh dari nilai-nilai fitrah Ilahiah (transendental). Maka kehancuran dan keruntuhan peradaban yang dialami akibat alenasi dan split of personality.

Keruntuhan peradaban-peradaban umat manusia yang telah melahirkan Ipteks (ilmu pengetahuan, teknologi dan seni) yang canggih dan nilai budaya yang tinggi, adalah akibat kesombongan. Maka hal tersebut harus menjadi pelajaran (ibrah) bagi umat manusia selanjutnya.

Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya; maka itulah tempat kediaman mereka yang tiada di diami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebahagian kecil. Dan Kami adalah Pewaris(nya). (Q.S. Al-Qashash [28]: 58)

Perubahan dan Peradaban Baru Adalah Sebuah Keniscayaan

Menarik apa yang dikatakan oleh Ziaduddin Sardar dari buku The Future of Muslim Civilization (Rekayasa Masa Depan-Peradaban Muslim)[2]. Ia menyatakan bahwa suatu peradaban pasti, mau tidak mau, melewati tahapan dan proses perpaduan dan pembedaan. Kekuatan atau kelemahannya akan dinilai dari  kemampuan dan ketidakmampuan menyesuaikan dengan lingkungan yang mengalami perubahan itu, tanpa identitas dan parameter aslinya.

Dalam peradaban Islam, dapat diketahui bahwa pada tahap-tahap awal peradaban Islam mengalami kontak dengan peradaban yang telah ada pada bangsa lain, seperti: peradaban Yunani, Romawi, Persia dan Cina. Namun, setiap kontak dengan peradaban yang telah ada  peradaban Islam tidak menerima langsung, akan tetapi selektif. Yakni dengan menyaring nilai-nilai peradaban bangsa lain yang dianggap sesuai dengan Islam. Dan menolak prinsip-prinsip yang bertentangan dengan nilai-nilai fitrah Islam (Asma al-Husna). Hal tersebutlah yang membawa peradaban Islam dahulunya mencapai puncak keemasannya kurang lebih 700 tahun.

Namun, setelah mencapai klimaks keemasan dulunya. Perlahan-lahan terjadilah era kejumudan dan kemunduran Islam dari peradaban yang agung. Padahal kontak antarperadaban bukanlah sebuah “dosa” apabila ada selektivitas dalam mengambil nilai-nilai (fitrah). Nabi Muhammad SAW menjelaskan:

Kamu semua berada pada suatu masa yang jika kamu menginginkan sepersepuluh dari apa yang diperintahkan, kamu akan menemui kehancuran. Setelah itu akan datang masa di dalamnya orang yang akan mengamalkan sepersepuluh. Dari amalan kita sekarang akan diselamatkan.

Dari kontesk tersebut di atas, tentu bekal yang dijadikan untuk selamat adalah amalan yang benar. Dimana sistem Islam harus memenuhi ranah kehidupan dunia yang ada, baik ranah politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan.

Maka ini merupakan suatu tantangan bagi generasi Islam saat ini untuk mampu merumuskan konsep-konsep yang sistematis dari semua lini kehidupan dan mampu menjawab tantangan kekinian. Seperti konsep perbankan berbasis Islami yang dijadikan alternatif terhadap perbankan ribawi. Dan mengutip perkataan, Ziaduddin Sardar. Kalau umat Islam telah mengalami dinamika pokok Islam ini, berarti kita mendapatkan kemajuan: Kalau aktivitas dan imajinasi mengarah kepada formalisme dan ritual yang kaku, pertentangan intern dan perjuangan untuk memperoleh kekuasaan, berarti menuju kejatuhan peradaban. Jika kita menganggap sejarah peradaban sebagai suatu yang berkesinambungan dan koheren, dapat dikatakan bahwa masalah-masalah kemasyarakatan Muslim kini merupakan produk dari sejarah yang telah mundur. Disinilah, tugas komponen umat menggali potensi untuk bangkit dengan menjauhkan segala kondisi konflik, baik internal maupun eksternal umat beragama.

Dari pernyataan di atas, dapat dimaklumi, bahwa peradaban baru yang dibangun bukanlah diarahkan secara formalistik dan ritual saja, maupun untuk mencapai sebuah kekuasaan. Karena perubahan material yang terjadi belum tentu dapat menjamin keberlangsungan peradaban masa depan apabila nilai-nilai spiritual dikesampingkan. Apalagi hanya menonjolkan simbol Islam dan melupakan esensi Islam yang sesungguhnya.

Harus diakui dalam bentuk aspek praktis dan intelektual tidak seberapa konsep Islam yang telah rampung untuk diterapkan pada aspek praktisnya. Sehingga perubahan tidak begitu jelas nampak dipermukaan, tetapi upaya-upaya perubahan pada aspek praktis dan intelektual selalu dilakukan. Polarisasi atau formalisasi syariah dalam peraturan daerah (perda) maupun lembaga keuangan dan asuransi, belum tentu dapat menyelesaikan masalah umat Islam di akar rumput.

Muhammad Iqbal mengatakan dalam The Reconstruction Thougth in Islam, sebagaimana yang dikutip oleh Ziaududdin Sardar:

Bahwa kehidupan spiritual yang utama di mata Islam bersifat kekal dan membuka diri terhadap keragaman dan perubahan. Suatu masyarakat yang didasarkan atas konsepsi realitas semacam itu harus berpegang teguh pada ketetapan dan menyesuaikan diri dengan perubahan. Dia harus memiliki prinsip-prinsip yang kekal untuk mengatur kehidupan kolektifnya, sebab yang kekal itu memberikan kita pijakan yang kokoh di dunia yang selalu mengalami perubahan ini. Kalau prinsip-prinsip kekal itu dipahami untuk menolak segala kemungkinan perubahan yang menurut al-Qur’an merupakan salah satu dari tanda-tanda Tuhan yang paling agung, maka mereka cenderung menghentikan apa-apa yang pada hakikatnya memiliki sifat-sifat selalu bergerak. Kegagalan Eropa dalam ilmu politik dan sosial menggambarkan prinsip yang pertama: Islam dalam masa 500 tahun ini menggambarkan prinsip yang kedua.[3]

Untuk itulah, maka kesadaran intelektual dan spiritual harus dipertautkan dengan sebuah kesadaran emosional atas realitas yang dialami umat Islam saat ini.

Peradaban dan Keadaban

Suatu peradaban yang berjalan menuju puncak keemasannya, apabila tanpa dilandasi dengan nilai-nilai (kesucian) manusia. Maka berlahan-lahan tapi pasti peradaban itu akan mengalami fase keruntuhan.

Al-Ghazali dalam bukunya Mi’ah Su’al Al-Islam (Menjawab 40 Soal Islam Abad 20) menyatakan:

Bahwa di dalam peradaban modern terdapat berbagai segi yang harus dihargai, bahkan saya percaya bahwa segi-segi itu tumbuh dalam pikiran merdeka dan lurus yang senantiasa mencari kebenaran, yang harus akan ilmu pengetahuan dan mendayagunakan potensi paling berharga yang dimiliki manusia. Usaha memperoleh keyakinan mengenai soal-soal yang berkaitan dengan kesadaran dan pemikiran bukanlah suatu hal yang murah, karena keyakinan itu merupakan hasil yang tertinggi dari kesanggupan manusia, bahkan merupakan tanggap satu-satunya akan firman  Allah SWT.[4]

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Q.S. Al-Isra [17]: 36)

Demikian pula halnya, manusia diminta supaya menjauhkan diri dari cara berpikir orang-orang yang  menyeleweng, berpikir naif dan pendek akal (sumbu pendek), yaitu orang-orang yang disebut dalam al-Qur’an:

Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya  persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. (Q.S. An-Najm [53]: 28)

Secara kasatmata dapat disaksikan, bahwa peradaban modern telah mencapai sukses di lapangan penelitian soal-soal fisik dan material. Juga telah memperdalam pemahaman manusia tentang rahasia alam. Namun menurut Al-Ghazali, sukses tersebut seharusnya membuat peradaban modern lebih dekat dengan al-Qur’an dan ajarannya. Sebab, memikirkan alam semestra, baik langit, bumi dan apa saja yang ada di antara keduanya adalah tunturan Ilahi. Hal itu tidak dapat disangkal lagi.

Dalam persoalan tersebut, kaum Muslimin dewasa ini sedang menanggung akibat dari keterbelakangan dan membayar harga yang sangat mahal. Menurut Al-Ghazali, adalah suatu kedurhakaan dan menyalahi perintah Allah SWT jika kaum Muslimin sibuk dengan peradaban yang kosong, tenggelam memikirkan berbagai macam filsafat metafisika, membesar-besarkan perbedaan pendapat mengenai persoalan-persoalan yang tidak ada manfaatnya sama sekali bagi peningkatan ilmu. Peradaban modern telah banyak menghasilkan penemuan-penemuan baru tentang kekuatan-kekuatan rahasia alam, yang dewasa ini kita saksikan telah mencapai kemajuan pesat di berbagai lapangan ilmu pengetahuan, seperti tenaga nuklir, ilmu antariksa, elektronika, komputer, dan sebagainya yang akhirnya membawa  kemajuan yang lebih tinggi bagi lapangan kehidupan sipil, militer, baik di darat, laut maupun udara.

Pemikiran Al-Ghazali tersebut di atas, menyiratkan sebuah realitas yang ada, bahwa peradaban modern yang dipelopori oleh Barat ini telah mengalami kemajuan dengan hasil-hasil penelitian dan penemuan yang belum ada sebelumnya. Dan Al-Ghazali menunjukkan “kekesalannya” pada peradaban Islam yang telah redup. Yang menurut Al-Ghazali disebabkan oleh kesibukkan umat Islam pada perdebatan yang tidak berarti, seperti persoalan khilafiyah. Sehingga umat Islam kehabisan energi untuk bangkit membangun peradaban baru yang Islami.

Dan Al-Ghazali pun menjelaskan, bahwa peradaban modern (Barat) tidak mampu “menjinakkan” semangat hewani yang bercokol di dalam tubuh, dan tidak mampu memadamkan semangat mementingkan diri sendiri, agar manusia yang satu mencintai manusia yang lain dan menghormati hak-haknya. Atau sekurang-kurangnya manusia bersikap adil terhadap manusia yang lain dan mengakui hak-haknya atas dasar itu, perabadan modern telah gagal pula mempupuk pengertian umat Islam mengenai eksistesi Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Peradaban modern tidak bisa menegakkan hubungan manusia dengan Tuhannya secara sehat dan benar berdasarkan kesadaran atas kelimpahan karunia-Nya, sehingga manusia merasakan kebesaran-Nya, bersyukur mengagungkan kesucian-Nya,  dan berdoa kepada-Nya untuk memperoleh untuk memperoleh ketentram jiwa dalam menghadapi berbagai macam krisis dan hal ihwal yang serba mencemaskan.

Maka persoalan yang dialami oleh peradaban modern saat ini, adalah kemiskinan akhlak. Padahal akhlak merupakan dimensi fitrah (kesucian) manusia yang harus ada dan dikembangkan.

Memang peradaban modern kaya dengan ilmu pengetahuan (IQ), akan tetapi tidaklah harus disombongkan di hadirat Sang Maha Pencipta (al-Khaliq), dan bukan pula keberhasilah iptek dalam sebuah peradaban membuat manusia sombong, angkuh, dan tidak mambutuhkan Tuhan. Karena banyak peristiwa yang membuat manusia tidak dapat diselesaikan dengan iptek yang dihasilkannya.

Alangkah indahnya, apabila keberhasil ipteks yang telah diraih dengan gemilang, akan membuat sang hamba merasa rendah hati di hadirat Sang Maha Kreator. Sehingga sang hamba menangis dalam simpuh sujud, karena semua kemampuan ipteksnya adalah anugerah terbesar dari Sang Maha Kreator Tunggal. Dan bukan malah membusungkan dada kepada-Nya.

Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa ketarangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu. (Q.S. Al-Mu’min [40]: 83)

Memang manusia abad ini telah mempu membuat dan menghasilkan peradaban besar dan modern yang gemilang sehingga manusia modern hidup dalam kenikmati duniawi dan kelezatan yang tiada tara. Namun, terkecoh dengan kenikmatan kesementaraan padahal masih ada kenikmatan abadi di hari akhirat kelak.

Jadi kecerdasan intelektual (IQ) tanpa diimbangi dengan kecerdasan emosional (EQ) dan spiritual (SQ), maka akan melahirkan manusia yang berkarakter seperti Firaun, Qarun, Musolini, Hitler dan yang sehabitat dengan kelompok tersebut.

Kesemestaan Peradaban Ilahiah

Peradaban Ilahiah merupakan upaya untuk mengembangkan nilai-nilai luhur kepada fitrahnya, yakni  akhlaqul karimah. Selama ini nilai-nilai luhur itu, baik iman (ritual), adat (kultur) dan hukum (konstitusional) sudah jauh dari kepribadian yang fitri (suci). Dan harus diakui, bahwa selama ini banyak manusia yang telah mengkhianati nilai-nilai fitrah itu, sehingga menyebabkan manusia lupa mensyukuri keteraturan di alam raya ini.

Secara faktual, Allah SWT secara administrasi Ilahiah telah menganugerahkan hijau-ranaunya  pepohonan, beragam hutan, satwa yang berbunyi di hutan belantara, gunung yang menjulang tinggi tanpa letusan, danau yang luas membentang, serta keindahan semesta raya lainnya. Semuanya indah dalam pandangan mata manusia yang memandangnya. Akan  tetapi pada hakikatnya keindahan alam ini hanya 1 % saja yang dipancarkan Allah SWT kepada seluruh alam ciptan-Nya. Dan 99 % keindahan itu akan didapatkan oleh sang abdi Ilahi di firdaus-Nya kelak.

Bagi “manusia-tauhid” tentu keindahan alam ini berasal dari sifat Allah Yang Maha Indah (al-Jamal). Bagi “manusia-tauhid” keteraturan yang teratur pada jagad raya ini adalah merupakan wujud alam semesta dan angkasa raya ini selalu berada pada keteraturan yang teratur (garis orbit), tanpa adanya benturan antara bintang dengan bintang yang lain, planet yang satu dengan planet yang lainnya, antara danau dengan danau yang lain, dan sebagainya.

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Q.S. Al-Isra’ [17]: 44)

Dari konteks ayat di atas,   dapat dipahami bahwa langit, bumi dan semua yang ada di jaga raya ini, mereka bertasbih memuji Allah SWT. Namun manusia yang dhaif ini tidak mengerti dan mengetahui bagaimana tasbihnya jagad raya ini. Mungkin tasbihnya ayam adalah kokoknya di kala fajar, tasbih burung kala berkicau dan makhluk jagad raya lainnya. dan manusia dapat mengetahui bahwa jagad raya ini adalah penuh dengan peradaban. Karena komitmen pada fitrah itulah peradaban dapat dipertahankan, yakni keteraturan yang teratur pada langit, bumi dan segala isi alam raya ini.

Dari tarbiyah ke angkasa raya tadi, lalu di bawa kepada bumi ini. Maka dapat pahami bahwa, alangkah malunya manusia yang telah mengkhianati fitrah (kesucian) diri. Padahal angka raya dalam alam semesta ini tetap pada komitmen fitrah (kesuciannya). Dan alangkah zalim dan dhaifnya manusia yang tidak dapat mempertahankan keteraturan yang teratur pada lingkungan hidup, yakni kebiadaban.

Atas kezaliman itulah Allah SWT menjelaskan dengan firman-Nya yang berbunyi:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S. Ar-Rum [30]: 30)

Jalan untuk menuju kesatuan Islam dan Indonesia adalah istiqamah di atas nilai-nilai al-Qur’an dan as-Sunnah. Komitmen pada nalar dan etika al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan karakter umat yang Qur’ani. Bukan hanya pada aksi dan tekanan massa, akan tetapi kemampuan menyusun barisan dan membangun jaringan antarumat, baik internal maupun eksternal, tanpa membedakan ormas, mazhab maupun firqah.

[1] HU Kompas, Jumat, 20 September 2005, rubrik Sorotan-Opini, h. 7.

[2] Ziaduddin Sardar, Rekayasa Masa Depan-Peradaban Muslim, Bandung: Mizan, 1998, h. 27.

[3] Ibid, h. 45.

[4] Al-Ghazali, Menjawab 40 Soal Islam Abad 20, Bandung: Mizan, 1998, h. 78.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *