REAKTUALISASI KEADABAN UMAT DAN BANGSA

By : Irwanto

…Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…(Q.S. Ar-Ra’d [13]: 11)
Kata Toto Tasmara, sebaiknya sesekali kita bersama-sama bertafakur dengan memasuki alam rohani sambil meneliti dan membedah seluruh jiwa dengan mata batin yang paling bening. Kemudian mengadili seluruh tubuh yang menjalani untuk mengarungi hidup yang abadi.
Euforia sekulerisme (hedonisme, glamorisme dan individualisme), itulah yang menggema di seluruh persada negara tercinta ini; mulai dari lapisan masyarakat yang teratas (elit) sampai pada lapisan masyarakat paling bawah. Namun yang perlu menjadi renungan dan pertanyaan benarkah sekulerisme yang dilakukan selama ini membawa perubahan pada umat dan bangsa? Hanya hati yang benar yang bisa menjawabnya, tanpa polesan “gincu” basa-basi di era pasca-industrialisasi.
Sebelum lebih jauh dipahami, tentu harus paham apa itu sekulerisme. Sekulerisme adalah paham yang memisahkan antara agama dengan kehidupan, baik dalam bidang sosial, budaya dan sebagainya dalam suatu masyarakat atau negara. Dalam Islam tidak ada pemisahan antara Islam (aturan agama) dengan kehidupan manusia. Al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan aturan yang mengatur prikehidupan manusia dalam semua lini kehidupan.
Mencermati perilaku sekulerisme yang terjadi di negara tercinta ini, ada dua kecenderungan besar yang dialami hingga saat bergulirnya bola globalisasi. Pertama, mereka yang cenderung memiliki dan memperjuangan sekulerisasi, kecenderungan ini beralasan pada sikap dan langkah-langkahnya pada alasan demi untuk kesinambungan bangsa dan pembangunan. Kedua, kecenderungan yang menginginkan dan memperjuangkan perubahan berdasarkan nilai-nilai Qur’ani, kecenderungan ini berdasarkan sikap dan langkah-langkahnya pada alasan demi penyegaran kehidupan berbangsa, untuk mengantispasi perubahan dahsyat di tingkat lokal dan global.
Kalau kembali kepada sejarah Rasulullah SAW tentu dapat diambil hikmah. Yaitu pada masa hijrah Rasulullah SAW ke Madinah bersama para sahabat, pada waktu itu terjadi pemboikotan, ancaman dan gangguan dari orang-orang kafir, namun hal itu tidak menjadikan semangat mereka kendur untuk hijrah dan menyikapi hal tersebut, mereka senantiasa meneguhkan keimanan dan kesabaran. Dengan demikian peristiwa hijrah merupakan salah satu titik tolak keberhasilan dakwah Rasulullah SAW dan para sahabat dengan menata kehidupan baru Madinah.
Kenyataan historis di atas merupakan spirit bagi umat Islam untuk melakukan perjuangan untuk menata kehidupan kebangsaan, kemanusiaan dan kebudayaan serta ipteks dengan semangat hijrah dari sepak-terjang sekulerisme menuju prinsip-prinsip dan nilai-nilai serta visi Qur’ani. Maka semangat Qur’ani itulah yang membawa umat Islam dan Indonesia meraih kejayaan di era globalisasi.
Cepatnya gema sekulerisasi di Indonesia adalah disebabkan oleh rasa ketidaksadaran akan keadaan yang meracuni kehidupan pribadi, masyarakat dan bangsa. Selain itu, sekulerisme juga diboncengi oleh kaum kapitalisme, sehingga dimana kaum dhuafa dan fakir miskin yang dalam kondisi tertekan karena permainan harga barang hingga terjadi krisis ekonomi.
Krisis ekonomi yang apabila semakin kritis akan melahirkan sikap krisis terhadap situasi bangsanya. Adanya ketimpangan ekonomi antara yang kaya dan miskin disinilah munculnya perlawanan terhadap penguasa yang digerakkan oleh paham komunisme. Maka dalam Islam konsep zakat menjadi solusi krisis ekonomi di masyarakat. Jadi kalau seandainya kolongmerat mau “memcubit” sebagian hartanya tentu kesenjangan ekonomi tidak terlalu terbuka lebar. Kemudian adanya kesenjangan antara sektor (misalnya sektor pertanian dengan industri). Dan adanya kesenjangan antara wilayah (antara pusat dan daerah).

Membudayakan Sikap Islami dengan Wawasan Qur’ani
Jika ditilik dari kacamata Islam, maka mengadakan perbaikan kepada umat harus dimulai dari niat para pelakunya, seperti hadits Rasulullah SAW.
Diriwayatkan oleh Amirul Mu’minin Abu Hafsh Umar bin Khattab r.a., ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Sesungguhnya amal itu tergantung kepada niat. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ditujunya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang dihijrahkannya.” (H.R. Muttafaq alaih)
Dari konteks di atas dapat dilihat siapa orang-orang yang betul-betul berniat membudayakan sikap Islami untuk menata umat dan bangsanya dari bahaya westernisasi dan sekulerisme, dan mana pula para pribadi muslim menjadi pribadi Islam yang ikhlas dan mampu menyelamatkan umat dari sekulerisme, sikap tersebut wujud pribadi yang berwawasan Qur’ani, buka yang hanya mencari ketenaran dan pahlawan kesiangan serta tidak mustahil keadaan yang sangat krisis ada pihak tertentu mencuri kesempatan dengan memanfaatkan situasi, hanya untuk mencapai kepentingan pribadi dan golongan dalam segala kehidupan berbangsa. Dan sangat menyedihkan bila hal itu sampai terjadi yang hanya akan menjadikan generasi muda sebagai alat serta sebagai konsumen pihak asing hingga menghilangkan rasa nasionalisme sebagai bangsa.
Maraknya perilaku hedonis, individualis, dan glamoris (sekulerisme) harus disikapi dengan bijak. Dalam Islam yang disebut dengan Ishlah adalah dengan gerakan moral Islami yaitu dengan tata cara yang arif dan kritis yang penuh dengan kebijaksanaan, seumpaman menarik rambut dalam piring yang berisi tepung; ‘rambut jangan sampai putus dan tepung jangan pula sampai tumpah.’ Begitulah sikap pribadi yang berwawasan Qur’ani dan sikap Islami yang penuh dengan akhlak.
Akhlak adalah bunga diri bagi manusia yang indah dilihat oleh mata, senang dirasa oleh manusia, dan semua orang merasa bahagia. Orang yang tiada berakhlak harta banyak tiada nilainya, wajah yang cantik hilang serinya dan bila berpangkat tinggi orang membencinya. Tingginya martabat suatu bangsa adalah tergantung pada akhlak atau budi pekertinya, sebagaimana yang dikatakan HAMKA, “Tegak rumah karena sendi, runtuh rumah sendi binasa, sendi bangsa ialah budi, runtuh budi runtuhlah bangsa.” Untuk itu mulailah mereformasi diri, sebagaimana dalam pernyataan, Umar bin Khattab, “Ibda’ bi nafsika” (mulailah dari dirimu sendiri), “Hasibuu anfusakum qabla antuhasabuu” (koreksilah dirimu sendiri sebelum dikoreksi orang lain). Silakan bicara vokal dan blak-blakan namun bermoral, sebab vokal tanpa moral akan dicekal akhirnya menyesal.
Biarlah “makamah” sejarah yang akan menulis segalanya. Usahlah menabur duri dan meniti cemburu iri hati. Renungkanlah kata hikmah, “Bencilah apa yang kamu benci cukup sekedarnya saja, mana tahu yang kamu benci menjadi yang kamu cintai. Dan cintailah yang kamu cintai cukup sekedarnya saja, mana tahu yang kamu cintai menjadi yang paling kamu benci.” Hendaklah bersikap profesional dan proposonal dalam kata dan laku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *