Sebab-Sebab Runtuhnya Peradaban Bangsa

By : Irwanto, Peradaban-peradaban umat manusia yang tepatnya adalah bangsa-bangsa di dunia satu demi satu mengalami keruntuhan. Runtuh atau naiknya sebuah peradaban adalah tak terlepas dari manusianya sendiri yang hidup dalam suatu masa sejarah pada bangsanya.

Kalau kembali kepada konteks Islam, ada beberapa sebab runtuhnya peradaban suatu bangsa. Adapun sebab-sebab runtuhnya peradaban suatu bangsa antara lain adalah: Pertama, kedurhakaan orang kaya yang jahil. Hal ini dijelaskan Sang Maha Cinta Agung dalam firman-Nya:

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah (orang kaya) di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.(Q.S.  Al-Israa [17]: 16)

Konteks ayat tersebut di atas, secara maknawiyah Allah menjelaskan, bahwa Allah SWT melalui firman suci-Nya yang disampaikan oleh para pendakwah (penyeru kebenaran) supaya orang-orang yang kaya untuk kembali ke jalan Allah, baik dengan ibadah ritual maupun dengan ibadah sosial seperti menunaikan zakat dan menyantuni fakir miskin dan anak yatim atau kaum dhuafa lainnya, serta semangat emansipasi kemanusiaan rahmatan lil’alamin. Tapi orang-orang kaya itu justru seperti Qarun yang kaya dan angkuh serta serakah dengan hartanya. Dan seakan-akan dengan kekayaannya dia mencoba menjahili atau “makar” kepada Allah dan masyarakat di sekitarnya.

Lahirnya perilaku ”Qarunisme” (anti terhadap emansipasi kemanusiaan rahmatan lil’ alamin) dikarenakan kekayaannya selalu bertambah dan menumpuk, baik cara yang halal maupun haram yang penting dapat dihantam. Sehingga menambah kedurhakaannya. Karena uang dan kekuasaan mudah didapat dengan strategi busuk, sehingga dia menghamburkan harta untuk membuat kerusakan dan kedurhakaan secara masif, sistemik dan terstruktur.

Maka sangat wajar apabila ”makar” Allah jatuh kepada mereka, yang telah puluhan kali membuat ”makar” diri (orang kaya durhaka) dengan perilaku ”Qarunisme” itu selalu berhasil tanpa hambatan dengan bermodal uang dan kekuasaan.

Kedua, tipu daya para pejabat yang bermental ”penjahat”. Hal ini juga dijelaskan oleh Sang Maha Cinta Agung dalam firman-Nya:

Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak mengetahuinya. (Q.S. Al-An’am [6]: 123)

Secara maknawiyah Allah SWT menjelaskan, bahwa di setiap negeri (bangsa) sudah ada para penjahat-penjahat, baik penjahat itu disebut dengan perilaku premanisme, maupun pejabat yang berperilaku seperti ”Firaunisme” (banditisme).

Perpaduan antara penjahat yang bermental premanisme dengan pejabat yang bermental ”Firaunisme”, maka terjadilah hubungan sinergisitas rekayasa (tipu daya/muslihat/niat jahat) hingga hancurnya sebuah negeri. Akhirnya tinggallah puing-puing reruntuhan akibat kezaliman pejabat yang bermental penjahat.

Allah pun menjelaskan, bahwa anggapan para penjahat premanisme dan pejabat ”Firaunisme” dengan ”makar” diri mereka itu mereka mendayakan masyarakat supaya masyarakat takut terhadap kezaliman mereka. Tetapi yang terjadi sesungguhnya justru merekalah yang mendayakan diri mereka sendiri, sehingga mereka lari dari negeri mereka karena ketakutan atas ”makar” diri mereka, namun mereka tidak menyadarinya.

Ketiga, lemahnya jamaah kebaikan. Sang Maha Cinta Agung dalam firman-Nya menjelaskan:

 

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S.  Hud [11]: 117)

Sesungguhnya Allah tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim (’membabibuta’) sedang penduduknya banyak orang-orang yang berbuat kebaikan.

Berbuat baik memang anjuran Allah kepada seluruh umat manusia. Namun berbuat baik sendiri tidak lah cukup, karena manusia menghadapi ”gelombang” besar kejahatan yang terorganisir dengan baik, yaitu para penjahat yang bermental premanisme dan pejabat yang bermental ”Firaunisme.”

Sebab ego sebagai manusia yang ingin baik sendiri tanpa mau mencegah kemunkaran. Maka yang terjadi adalah lose generation (rusaknya satu generasi). Dapat disaksikan setiap hari kian bertambah generasi narkoba yang menghisap lem dan lentingan ganja, tuak dan sejenisnya, di dusun, desa dan kota, sudah ramai generasi pejudi dan yang meneguk miras (minuman keras) yang bangga dengan dosa-dosa, munculnya kekerasan seksual oleh para predator anak dan fedopil, pergaulan bebas yang berakibat pada zina, selingkuh dan aborsi, serta amoral dan asusila lainnya. Dan yang cukup ironis adalah justru sebagai bangsa anak bangsa menunjukkan ketidakberdayaan, yakni membiarkan para tetangga menjual narkoba, minuman keras dan bermain judi di lingkungan kehidupan, serta tindakan maksiat lainnya.

Kejadian di atas, disebabkan jamaah kebaikan tidak terorganisir dengan baik. Maka yang terjadi adalah bangkitnya generasi narkoba, miras dan pejudi serta koruptor untuk unjuk kekuasaannya dihadapan komunitas bangsa. Sehingga di luar kesadaran, norma, agama, adat mereka berbuat kejahatan dan segala bentuk ”makar” diri lainnya. Dan sebagai bangsa pun menyaksikan puing-puing reruntuhan yang sama-sama  hanya dapat menghujat, menyesali dan  meratapinya, tanpa mau melakukan amar ma’ruf nahi munkar serta bergerak melakukan emansipasi kemanusiaan rahmatan lil’ alamin untuk menyelamatkan generasi muda dari kubangan maksiat.

Padahal ”sinyal” firman Sang Maha Cinta Agung telah menjelaskan, bahwa sumber kejahatan manusia adalah narkoba, miras, judi dan perilaku amoral dan asusila lainnya. Seperti dalam firman-Nya:

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung. (Q.S.  Al-Maidah [5]: 90)

Sudah saatnya komunitas bangsa mencegah adanya tempat-tempat narkoba, miras dan perjudian di dusun, desa maupun kota supaya kejahatan tidak ”bersemi” kembali dalam kehidupan hari ini dan masa yang akan datang. Dan yang lebih progresif adalah memangkat kaum pelaku dosa memiliki kesadaran berislam dengan memberikan mereka usaha untuk mengangkat derajat kemanusiaannya.

Solusi Atas Keruntuhan Peradaban

Berbagai sebab runtuhnya peradaban suatu negeri. Maka sangat dibutuhkan solusi untuk menyelamatkan bangsa dari keruntuhan peradaban. Apabila tidak segera mencari solusi maka yang terjadi adalah kehancuran demi kehancuran. Akhirnya yang terjadi adalah kegagalan sebagai bangsa besar di dunia ini.

Adapun solusi secara moral Islami adalah: Pertama, ihsankanlah seluruh anggota tubuh. Jangan sampai telinga mendengarkan aksi kejahatan justru malah diam tidak mencegah kejahatan sehingga kejahatan itu terjadi, jangan sampai mata melihat kejahatan tidak berusaha menegur sehingga kejahatan berlanjut kepada yang lebih merusak dan menghancurkan, dan jangan sampai hati ikut mendukung melegalkan kejahatan. Begitu juga dengan tangan jangan sampai ikut membanting kartu judi, mencekik narkoba dan miras, melempar, mencuri, korupsi, memukul tanpa haq dan kejahatan tangan lainnya. Jangan sampai kaki melangkah ke tempat kejahatan, menendang yang bukan haqnya. Serta jangan sampai mulutnya memprovokasi dan menyulut kerusuhan dengan menggunakan kalimat mengkafirkan  sesama muslim, memunafikkan sesama mukmin dan jargon-jargon miring lainnya. Karena dalam pandangan Allah tidak tahu siapa yang sesungguhnya yang kafir, munafik, muslim dan mukmin.

Sang Maha Cinta Agung dalam firman Qudus-Nya menjelaskan:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Q.S.  Al-Israa [17]: 36)

Ayat di atas menjelaskan, bahwa Allah SWT menyuruh manusia untuk mengihsankan seluruh anggota tubuh, yakni digunakan untuk berbakti pada Ilahi; tangan digunakan untuk menyantuni yang lemah, kaki untuk berjalan yang diridai Allah, mata untuk melihat yang disukai Allah, mulut bertutur untuk mengajak kebaikan dan mencegah kemunkaran serta beriman kepada Allah. Dan, hatipun ditata untuk diajak kembali ke jalan Allah. Inilah spirit emansipasi kemanusiaan rahmatan lil’alamin, yakni keberpihakan pada rakyat jelatan (kaum mustadha’afin). Karena keberpihakan kepada mustadha’afin atau kaum dhuafa merupakan ikhtiar menuju kesatuan Islam dan Indonesia.

Kedua, konsisten mengharapkan ampunan Allah. Semua manusia yang berada di bawah kolong langit dunia ini tak luput dari salah, khilaf, lupa dan dosa. Maka Allah pun membuka gerbang keampunan-Nya. Yakni bertaubat atas maksiat. Apabila maksiat pribadi maka lakukanlah taubat sendiri-sendiri. Dan apabila itu maksiat nasional maka lakukanlah taubat nasional.

Sang Maha Cinta Agung dalam firman-Nya menjelaskan:

Dan mintalah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S.  Al-Baqarah [2]: 199)

Ketiga, akhirilah perbuatan dengan khusnulkhatimah. Ingatlah! pada prinsipnya perilaku manusia selalu disorot oleh ”kamera” Ilahi yang diliput oleh Malaikat Rakib dan Atib, maka jangan sampai ”kamera” Ilahi banyak meliput kejahatan yang dikerjakan. Berusahalah di akhir hayat diliputi dengan khusnulkhatimah. Yakni saat mati sedang membaca al-Qur’an, saat kematian dalam keadaan sujud, atau pada saat ajal sedang melakukan banyak kebaikan, dan saat akhir hayat membela emansipasi kemanusiaan rahmatan lil’alamin terhadap kaum mustadha’afin. Dan jangalah sampai su’ulkhatimah, yakni akhir hayat dalam keburukan. Yakni seperti meneguk miras, berjudi dan dalam keadaan keburukan lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *